Kamis, 29 November 2007

oleh-oleh dari European in Screen

Tanggal 24 – 25 November kemarin, bertempat di kafe buku Biblioholic, Jl. Perintis Kemerdekaan Tamalanrea Makassar, diselenggarakan pemutaran film Eropa yang merupakan rangkaian Festival Film Eropa (European Film Festival) yang diadakan di beberapa kota di Indonesia, diantaranya Jakarta, Bandung, Medan, Banda Aceh, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, dan Makassar.

European in Screen’, begitu mereka menyebut festival ini, memutar beberapa film Eropa dan film-film pendek dari Indonesia. Karena tema yang diusung dalam acara ini adalah multikulturalisme, maka film-film yang diputar pun menonjolkan keberagaman budaya-budaya yang ada di Eropa, perbedaan ras, agama dan tradisi, serta latar belakang pemikiran, dan bagaimana perbedaan-perbedaan itu hidup bersama dalam satu wilayah, bahkan dalam lingkungan kecil, dengan berbagai konflik yang kemudian muncul.

Konflik yang terjadi tidak melulu karena perbedaan-perbedaan tersebut, tapi seperti yang juga terjadi pada kebanyakan film. Ada yang menampilkan konflik keluarga, seperti pada Love Lorn, yang menggunakan perselingkuhan sebagai sentral ceritanya. Film ini mengisahkan Nazim, seorang pensiunan yang gagal dalam membina hubungan baik dengan anak-anaknya kemudian bertemu dengan seorang wanita, bernama Dunya, yang telah bersuami dan memiliki seorang puteri.

Pertemuan mereka dan ‘pertemanan’ yang terjalin diantara mereka mendapat pertentangan terutama dai keluarga Nazim. Si wanita diceritakan mendapatkan pertolongan dengan bertemu Nazim setelah ketidakharmonisan yang terjadi dalam rumah tangganya. Bahkan putrinya terkena penyakit ‘malas bicara’ karena telah banyak menyaksikan kekerasan yang dilakukan ayahnya yang seorang psikopat. Nizam kemudian berusaha menyelamatkan hidup wanita itu, bukan dengan membawanya kabur trus happy ever after berdua, tetapi dengan memaksa suami Dunya menjadi orang baik, ayah, bahkan suami yang baik.

Tapi hal itu tidak berlangsung lama. Setelah Dunya kembali mengalami pemukulan, ia pun lari dan mengadu pada Nizam. Apa yang terjadi berikutnya? Ending dari film ini benar-benar tidak diduga sebelumnya. Sang suami, setelah menyadari tidak bisa membujuk istrinya kembali, memutuskan untuk mati setelah menembak kepalanya sendiri. Hal ini dilakukannya setelah menembak kepala isterinya lebih dulu. Tragedi ini berlangsung di depan mata Nizam dan puteri mereka. Tidak ada yang bisa dilakukannya untuk menyelamatkan Dunya seperti yang selalu ia ingin lakukan selama ini.

Film ini mengandung pesan bahwa hidup adalah pilihan, seperti yang diucapkan Nizam pada suatu waktu dalam film tersebut. Suami Dunya memilih mati sementara Dunya pun telah memilih. Ia memilih meninggalkan suaminya dan tidak akan memberi kesempatan lagi. Meski untuk itu, ia harus mati. Dan Nizam? Dia pun memiliki konflik sendiri diakibatkan oleh pilihan-pilihannya. Lalu bagaimana dengan puteri Dunya? Apa ia punya kesempatan memilih?

Benang merah dari film-film yang ditayangkan pada Festival Film Eropa ini adalah multikulturalisme di Eropa, sehingga film-film tersebut pada umumnya bercerita bagaimana seseorang atau sebuah keluarga menghadapi tradisi dan budaya yang berbeda dari tradisi di tempat asalnya dan bagaimana ia hidup dalam lingkungan asing tersebut. Seperti pada Polleke yang mengisahkan keluarga Mimoen dari Maroko yang menetap di Belanda. Kemudian Zozo, seorang anak yang akar keluarganya dari Swedia, yang tinggal di Lebanon ketika masa perang, atau pada Almost Adult, yang mengangkat kisah Mamie, seorang imigran di Inggris, dan kemampuannya beradaptasi dan meyesuaikan diri di lingkungannya yang baru.

Festival Film Eropa ini menjadi menarik bukan hanya karena minimnya festival seperti ini digelar di Makassar, tapi karena tema budaya dan tradisi yang diangkat pada Festival ini. Bagi orang-orang Eropa, budaya Asia yang unik menjadi menarik sehingga membuat mereka datang kemari untuk melihat etnik yang berbeda dengan yang ada di negaranya. Ada sensasi tersendiri begitu menyaksikan adat dan budaya yang berbeda tersebut. Seperti itu juga bagi saya, bagi beberapa orang Asia mungkin, yang menjadi begitu tertarik untuk menyaksikan budaya dari Eropa ini.

Beberapa film menampilkan budaya dan adat yang berasal dari luar Eropa. Seperti bagaimana keluarga Mimoen yang berasal dari Maroko (dalam Polleke) ketika merayakan sebuah pesta pernikahan. Film ini, sesuai misinya, menunjukkan bagaimana budaya luar (luar Eropa) ada dan hidup, serta mampu bertahan bahkan diterima di tengah budaya Eropa. Festival ini secara garis besar menunjukkan bahwa kemajemukan atau pluralisme sudah menjadi bagian dari kehidupan Eropa.

Meniru ’tradisi’ yang dilakukan pak Bondan (dalam acara wisata kuliner) yang punya sesi dimana dia memilih masakan terlezat menurutnya dari beberapa kunjungannya di berbagai tempat makan pada satu episode, maka saya pun ingin memilih film terbaik menurut saya. Karena suka-suka saya, jadi tidak perlu kategori-kategori tertentu seperti yang digunakan oleh juri-juri perfilman, kan? Dan pilihan saya jatuh pada film (...goes to...) Almost Adult. Alasannya? Soal suka atau tidak suka, saya kadang tidak punya dan tidak butuh alasan. Tapi untuk kali ini saya punya alasan singkat. Karena Ceritanya sederhana, menyentuh, dan terasa nyata. Zozo pun menarik. tapi ada beberapa adegan yang menurut saya tidak perlu ada. Ketika Zozo (berkhayal) menyaksikan sebuah titik cahaya yang berbicara padanya. Jika adegan ini dihilangkan, mungkin Zozo lebih menarik dan penonton tetap tidak akan kehilangan kesan bahwa Zozo sangat menderita kehilangan keluarganya dan karenanya ia membangun khayalannya dengan berbicara dengan ayam kecil (lucu!), bertemu ibunya (ini sih masih sangat wajar!), berbicara dengan Tuhan lewat cahaya (????). Mungkin jika Zozo berdialog dengan Tuhannya, mempertanyakan nasib dengan berbisik lirih (tanpa embel-embel cahaya), akan lebih menyentuh. Ini menurut saya lho....

Tidak hanya film Eropa, pada waktu jeda juga diputar Film pendek karya Andi Affan yang mengangkat isu flu burung di Indonesia sebagai temanya. Jika dibandingkan dengan film terdahulunya (Suster apung), maka saya lebih memilih Suster apung. Kenapa? Cerita Suster apung lebih menyentuh. Padahal pada filmnya kali ini, Andi Affan telah membuat tokoh utamanya se’menderita mungkin’ (kematian ayah plus penyakit asma yang dideritanya dan terancam kehilangan burung peliharaannya, yang merupakan ’warisan’ ayahnya, karena pemusnahan unggas secara massal pada waktu itu). Cerita Suster apung lebih mengharu biru meski terasa lucu. Membuat kita tertawa tapi miris. Mungkin karena kisah Suster apung benar-benar nyata, dengan kepolosan dan ketulusannya, tanpa rekayasa sedangkan filmnya yang satunya lagi lebih terasa fiksi meski mungkin benar-benar diangkat dari kisah nyata.

Harapan penulis, semoga acara yang berskala internasional seperti ini akan selalu diadakan di kota ini. Dan panitia penyelenggara acara pun lebih terbuka dalam mempromosikan dan mensosialisasikan acaranya sehingga tidak berkesan exsclusive.

Makassar, 26 Nopember 2007

Tidak ada komentar: