Kamis, 15 November 2007

LUKISAN ANGIN

Tentang Angin Dan Ilalang
Sore itu terasa berbeda. Meski mataharinya sama. Angin yang bertiup, rumputnya, pohonnya, dan seorang laki-laki yang duduk disampingnya. Semua masih sama seperti kemarin-kemarin tapi tetap saja ia merasakan ada yang berbeda.
“Kemuning…,” panggil lelaki yang duduk di samping sang gadis.
Gadis itu menoleh. Dadanya berdegup menunggu. Dia yakin sekaranglah saatnya.
“Jika kau menjadi bagian bukit ini, kau ingin menjadi apa?” tanya sang lelaki.
Gadis itu diam sejenak. “Mmm….” Dia belum juga menemukan jawabannya. Pandangannya beredar mengitari hamparan rumput ilalang, tanah berbatu….
“Rumput!” Kata itu tercetus begitu saja.
“Rumput?” Gadis itu mengangguk mantap menunjuk salah satu batang rumput di depannya.
Si lelaki tersenyum. Dia bergerak meraih salah satu batang rumput.
“Jangan!” lelaki itu menoleh. Sejenak kemudian ia tersenyum mengerti. Ia tidak jadi mencabut rumput itu.
“Kenapa bukan kemuning?”
“Kemuning?” Si gadis mengitari bukit itu sekali lagi dengan matanya tapi tidak menemukan apa yang dicarinya.
“Tapi tidak ada kemuning di sini!” tukas si gadis.
“Aku akan menanamnya di sana.” Si lelaki menunjuk ke depan dan tersenyum pada gadisnya.
Mereka saling tatap lalu si gadis berkata lirih,”Aku jadi rumput saja….” Si lelaki menunduk dan menghela nafasnya. Dadanya terasa sakit. Nampaknya gadisnya telah mengerti maksudnya.
“…Toh akhirnya kau tetap akan meninggalkanku.”
“Aku tidak mungkin selamanya di sini. Dari awal kau sudah tahu itu.” Ia menatap mata gadisnya mencari persetujuan.”Ini satu-satunya kesempatanku. Di sana, aku bisa jadi pelukis terkenal.”
“Kau pun bisa melukis di sini….” Si gadis bertahan.
“Tanpa dikenal siapapun?! Aku butuh pengakuan untuk karyaku!” Si lelaki menatap tajam.
“Aku pun tidak mungkin membawa rumput ini pergi. Di sinilah dia hidup,” lirihnya kemudian.
“Kau tetap akan pergi?” Si lelaki menunduk, tak sanggup menatap telaga di mata gadisnya.
Mereka terdiam lama sampai akhirnya lelaki itu menuntun gadisnya beranjak dari tempat itu.
“Kau ingin menjadi apa?” Si gadis bersuara kembali setelah mereka menuruni bukit.
“Angin.”
Si gadis terdiam. Dengan menunduk, ia mengikuti langkah lelaki di depannya. Air matanya jatuh satu-satu. Jawaban itu telah menikam batinnya.

***
Aku memajang lukisan kesayanganku di dinding yang paling strategis. Sontak teman-temanku berkumpul membentuk setengah lingkaran lalu memandangi lukisanku itu dari setiap sisi.
“Bagus….”
“Iya, latarnya benar-benar indah.”
Beberapa komentar yang terdengar membesarkan hatiku. Aku tersenyum bangga menatap masterpieceku terpajang.
Lukisan itu tampak hidup. Seorang gadis berdiri di tengah ribuan rumput ilalang. Di depannya berdiri, sebuah taman kecil berisi bunga-bunga kemuning yang mengikuti gerakan ilalang yang tertiup angin. Gadis itu berdiri seolah akan terbang. Tangan kanannya terentang ke depan hendak meraih seberkas garis putih di depannya. Dia tampak seperti gadis yang menyambut sekaligus melepas kekasihnya pergi.
“Dari komposisi warna….” Semua yang ada di tempat itu berpaling ke arah datangnya suara. Begitu tahu siapa yang bicara, tawa langsung merebak. Semua tahu, Yusril bukan pelukis. Apalagi sampai tahu komposisi warna segala.
“Habis…kalian serius amat. Segitu terpesonanya,” sambarnya begitu tahu dirinya jadi bahan tertawaan.
“Cantik. Siapa gadis ini?”
***

masih nyambung....

Tidak ada komentar: