Jumat, 21 Desember 2012

HAPPY MOM'S DAY



A “NEVER READ” LETTER

DEAR MOM,

I knew I was not a good girl for you
Cuz  sometimes I felt so angry with our disagreement
Cuz  sometimes I felt so bad when you tell the truth about life
with all of your advice
Cuz  sometimes I felt so unfair when you asked me to do something I didn’t want to
Cuz  sometimes i deliberate for not answer your call

But finally I realize that
You never ask except for my goodness
You never disagree except with all of my good request
All your advice never missed from the truth

And now,
You are in a far, so far away
So far so I can’t see you or tell you ‘bout something, ‘bout anything, ‘bout my secrets
So far so you can’t ever called me anymore
even for once
So far so you can’t hear me, for all my forgiveness
even just for one sorry

Mom,
I would never ask anyone else to be my mother unless you
Cuz you're the best one

Senin, 09 April 2012

Di sebuah Warung Coto

Hujan mulai turun rintik-rintik. Dingin dan rasa lapar bekerja sama mendesakku mempercepat langkah menuju ke sebuah warung cotodi pinggir jalan. Aku memandang sekeliling sebelum masuk. Bangunan warungnya, sangat sederhana, dari anyaman bambu. Di bagian depannya tergantung sebuah spanduk panjang berwarna kuning, mungkin bekas spanduk sebuah partai yang identik dengan warna itu, bertuliskan nama warungnya. Di bawah tulisan nama warung, tertulis pula harga coto permangkuknya, “ HARGA RP.9.000, KETUPAT RP. 500” . Pada tiang depannya terselip karton kecil bertuliskan “ADA”.

Aku melangkah masuk dan langsung memesan, “ Campur, Pak, tidak pake hati dan daging ya….”

Aku memilih duduk di meja dekat pintu dan dekat dapurnya. Supaya pelayannya tidak usah repot-repot mengantar dan tentu saja supaya tidak lama. Dari belakang kudengar seorang memesan yang membuatku tersenyum,“ Satu, Pak. Hati dan daging.”

Dua orang yang masuk kemudian, menarik perhatianku. Salah satunya adalah bule. “Wah, kesasar nih bule,” pikirku. Teman si bule tadi, yang sepertinya adalah guidenya, menerangkan banyak hal kepada si bule termasuk makanan yang dipesannya.

“This is one of special food from here…Makassar, ” Kata si guide dan si bule pun manggut-manggut.

Mereka kemudian mengambil meja pas di depanku.Si guide meminta ijin ke belakang pada si bule. Tinggallah si bule sendiri yang memandang ke sekililing. Kemudian pandangannya tertuju pada perlengkapan makan yang ada di depannya. Dua buah tempat bumbu yang, biasanya, berisi garam dan sambal tumis, sepiring kecil irisan jeruk nipis, sepiring ketupat, sebotol kecap, dan tabung plastik tempat tissu gulung. Semua diperiksanya satu persatu. Ketika memegang tissu gulung yang dia keluarkan dari tempatnya, tampaklah kebingungan di wajah si bule. Aku berusaha menahan tawa ketika dia melihat ke arahku seolah minta penjelasan. Keningnya yang berkerut-kerut mengocok perutku yang isinya hanya udara saja. Pasti si bule ini heran, koq ada perlengkapan WC di atas meja makan?

Tak lama pesananku pun datang disusul pesanan si bule yang masih kebingungan. Dia masih menatapku seolah menunggu reaksiku terhadap makanan yang baru datang. Aku mulai mencampur garam, kecap, dan memeras jeruk nipis tanpa mencoba terlebih dahulu air cotoku. Kata seorang teman, orang yang langsung mencampur bumbu makanan tanpa mencoba dulu menunjukkan tipe orang yang tidak gampang percaya pada orang lain.
“Di mana-mana coto ya…rasanya hambar kalo’ belum dicampur bumbu,” sanggahku waktu itu.

Sepertinya si bule mengikuti semua yang kulakukan, termasuk ketika menambahkan sambal tumis ke dalam coto. Dan ketika kutarik lembaran tissu dari gulungannya, dia menatapku penasaran. Aku menarik tissu pelan-pelan, sebenarnya aku ingin membuatnya lebih dramatis tapi kasihan juga melihat muka si bule yang sangat penasaran lagian cotoku mulai dingin, jadi kutarik cepat-cepat dan mulai mengelap tanganku yg kena percikan air coto. Kuambil beberapa lembar lagi dan mengelap mulutku. Si bule manggut-manggut, lebih serius daripada manggut-manggutnya kepada guidenya tadi. Dia pun ikut menarik lembaran tissu dan mengelap tangannya. Coba tadi tissunya kucelup di air coto lalu mengunyahnya, kira-kira tuh bule ikutan gak ya?

Si guide kembali setelah makanan si bule tinggal setengah. Dia kembali bercerita banyak hal kepada si bule, mengenai budaya Makassar, makanannya, beberapa tempat wisata, dan lain-lainnya. Tapi dia lupa menjelaskan ke si bule perihal tissu gulung yang ada di meja makan.

Setelah makanannya dan cerita si guide habis, mereka berdiri dan meninggalkan meja menuju kasir. Sebelum melangkah ke pintu, si bule berbalik ke arahku dan tersenyum.

“You’re welcome,” jawabku dalam hati.

Sabtu, 09 Juli 2011

Drama Pembantaian Sebuah Koloni

Pagi itu, di hari Sabtu, adalah hari libur bagi sebagian warga tapi tidak bagi sebagian warga lain. Matahari pagi menyinari setiap sudut ruangan tak terkecuali sudut tempat sekoloni rayap menetap. Seekor rayap seperti biasa, keluar dari lubang kecilnya. Statusnya sebagai rayap dari kasta pekerja tidak membenarkannya untuk sekedar duduk menunggu makanan. Tidak. Dialah yang ditunggu untuk mencari, mengangkut dan memberi makan rayap-rayap dari kasta prajurit ataupun kasta petelur.

Hari ini dia merasa agak aneh. Dia merasa diawasi seseorang. Seharusnya perasaan seperti itu wajar. Setiap rayap yang berada di koloni ini pastilah akan merasakan hal itu. Tentu saja, karena merekalah koloni yang dengan terang-terangan, seterang-terangnya, menampakkan pertanda keberadaan koloni di sudut ruangan ini. Tetapi hari ini perasaannya sangat kuat. Seolah sepasang mata itu tak pernah melepaskan langkahnya sedetik pun. Tajam, penuh benci.

Dia menoleh ke arah teman-temannya yang sekasta dengannya. Mereka pun keluar dari lubang-lubang kecilnya. Melakukan aktivitas yang sama dengannya.

“Hai,” sapa temannya,”hari ini matahari terlalu terang ya…? Pagi yang indah bukan?” katanya penuh semangat sambil memperbaiki dinding-dinding sarang yang jebol. Entah sejak kapan, ia mulai melakukan pekerjaannya itu. Rasanya sudah lama sekali, temannya ada di situ dengan pekerjaan yang sama. Dan dinding-dinding yang diperbaikinya tetap saja selalu jebol setiap harinya.

Dengan diliputi perasaan tidak enak yang aneh, rayap itu pun tetap melangkah ke tempat biasa ia mendapatkan makanan untuk disimpan di gudang. Beberapa rayap berjaga di sana. Merekalah yang bertugas memindahkan makanan-makanan itu ke tempat lain jika gudang sudah tidak aman lagi.

Tampak beberapa rayap berjalan hilir mudik di antara para pekerja. Tampilan tubuh rayap-rayap ini lebih gagah dilengkapi rahang berbentuk gunting sebagai penjepit musuh, sebuah perlengkapan yang hanya dimiliki rayap prajurit, Merekalah para rayap dari kasta prajurit yang bertugas mengamankan koloni dari gangguan musuh

Langkahnya terhenti. Membuat teman-temannya yang berjalan dibelakangnya ikut berhenti. “Eh, ada apa?” Ia terdorong, memaksanya melangkah lagi.

“Hari ini matahari terlalu terang ya…?” ucapan temannya tadi melintas lagi di kepalanya….dan degg….tiba-tiba dia terpikir sesuatu. Rayap itu berlari, membiarkan makanan yang dibawanya berhamburan. Dia keluar dari barisan, tidak peduli pada teman-temannya. Dia terus berlari menjauhi barisan teman-temannya menuju daerah yang lebih lapang dan mengamati sekelilingnya. Yah…matahari memang sangat terang hari ini. Terlalu terang. Dia merasakan panasnya cahaya yang menerpa tubuhnya. Sebuah jendela terbuka lebar di sana. Kejadian yang sangat tidak lazim. Di pagi seperti ini dan jendela sudah terbuka. Lalu rayap itu tiba-tiba berteriak,”Bahayaaa……!!!”

Para rayap prajurit berhamburan lalu membentuk formasi dengan tugasnya masing-masing. Ada yang mengamankan gudang dan mengawal para pekerja memindahkan makanan. Ada yang mengamankan sarang di mana rayap petelur berada. Sementara di garis depan, para rayap prajurit lainnya membentuk formasi melawan dan terus waspada meski mereka tak melihat musuh seekor pun.

Seekor rayap yang merayap sendiri di tengah dinding terus merangkak dan mengendus bahaya. Lalu beberapa detik kemudian datanglah bencana itu. Berjuta-juta butiran cair bagai hujan deras tiba-tiba mengguyur daerah tempat koloni mereka berada. Para rayap pekerja berhamburan mencari perlindungan. Rayap-rayap prajurit ikut berhamburan, hendak melawan tapi tetap tak melihat musuh seekorpun. Kemudian…byurrrr…! hujan deras kembali menimpa mereka. Dalam beberapa detik rayap-rayap, baik prajurit maupun pekerja, terkapar.

“Ini bukan hujan…, ini racuuuun…!” teriak para rayap. Tapi sudah terlambat. Racun-racun itu tidak hanya mengguyur mereka yang di luar tetapi juga memenuhi lubang-lubang tempat para rayap tinggal. Tak terkecuali tempat rayap petelur atau ratu. Dalam beberapa menit saja, koloni itu hancur tanpa sisa. Bangkai-bangkai rayap pun diangkut entah ke mana.

Suasana menjadi tenang. Bangkai-bangkai rayap telah bersih. seekor rayap yang sejak tadi merayap sendiri pun tak terlihat lagi. Dari kejauhan terlihat makhluk bersayap terbang melintasi daerah reruntuhan koloni. Dia seekor laron. Seperti seorang anak yang baru pulang setelah lama merantau, ia terus terbang mengitari reruntuhan koloninya, berharap menemukan sesuatu. Sesuatu yang pernah sangat dikenalnya.

***

Seorang terduduk lelah, masih dengan penyemprot di genggaman tangan kirinya, menatap sudut kamar yang telah “dibereskannya”. Yang muncul dihadapannya adalah bayangan pasar yang terbakar habis beberapa hari yang lalu. Berita mengenai kebakaran pasar itu hanya sekali ditayangkan di TV tidak seperti berita mengenai seorang anggota DPR yang berseteru dengan anggota KPU yang tidak hanya ditayangkan berseri tapi juga berulang-ulang.

Selintas perasaan bersalah menggantung. Ditatapnya “hasil pekerjaannya” dan berucap maaf berkali-kali.
Ia lalu menetapkan hatinya, memperkuat genggamannya. “ Demi keseimbangan ekosistem,” bisiknya.
Alasan tidak masuk akal sama tidak rasionalnya dengan alasan terbakarnya pasar hari itu.


Makassar, Juli 2011

Sabtu, 17 April 2010

hujan meteor lyrids

Bulan April ini,kita akan disuguhi fenomena berupa hujan meteor lyrids,yang turun sejak 16 April hingga 26 April nanti. Fenomena tahunan tersebut bisa disaksikan di seluruh Indonesia selepas tengah malam, yaitu sekitar pukul 01.00 hingga mewnjelang subuh.
Menurut peneliti utama astronomi dan astrofisika di Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin, masa puncak hujan meteor terjadi pada 21-22 April. Saat itu, diperkirakan ada 10-20 meteor yang muncul setiap jam. Meteor dari komet Tatcher tersebut mulai diketahui astronom sejak 2600 tahun lalu.


Hujan meteor itu bisa disaksikan dengan jelas oleh penduduk bumi di belahan utara. Di Indonesia yang berada di khatulistiwa, kata astronom dari Observatorium Bosscha Evan Irawan Akbar, kemungkinan agak sulit dilihat. "Posisinya dekat horison, mungkin agak terhalang pepohonan," katanya. Sebelum dan sesudah masa puncaknya, jumlah meteor yang jatuh diperkirakan hanya sebuah tiap jam.
Jadi mungkin penampakan fenomena ini akan lebih baik, jika kita berada di tempat yang lapang,seperti di tengah sawah, atau di pantai di mana horison tidak terhalangi apapun.

Hujan meteor itu berasal dari lapisan es komet yang mencair ketika orbitnya dekat dengan matahari. Partikel debu, es, dan batu yang terlepas itu terbakar di atmosfir sebelum jatuh ke bumi. hujan meteor dari komet yang muncul tiap 415 tahun.

Menurut Evan, tahun ini ada 11 hujan meteor yang besar termasuk Lyrids. Setiap tahun, bumi disiram sekitar 25 ribu ton debu angkasa.



sumber : tempointeraktif.com

waktu

Pernah menyesal?iya?tidak?oh,ya?
here they are,
4 things you can not recover :

- the stone after the throw
- the word after it's said
- the occasion after the loss
- the time after it's gone



Saya pernah mendengar nasehat menyangkut hal ini sebagai berikut,
Ingat lima perkara sebelum lima perkara :
- sehat sebelum sakit
- muda sebelum tua
- kaya sebelum miskin
- lapang sebelum sempit
- hidup sebelum mati

lagunya raihan klo gak salah juga ada.

Dan peringatan yang paling dahsyat adalah :

Demi masa.Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh
dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran
dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.
(Al ashr : 1-3)


yang jelas,kita semua merasakan,
waktu melaju lebih cepat dari rudal squad

Selasa, 26 Januari 2010

HUJAN TURUN

Hujan yang turun mulai deras. Aku membuka jendela membiarkan angin yang menggila di luar juga mengacak-acak udara di kamarku. Tatapanku tertuju pada tetesan hujan yang membentuk garis menitis ke bumi lalu beralih kepada dua orang yang berjalan di bawah satu payung, menjauh dari pandanganku hingga menjadi bayangan. Lalu pikiranku bersenandung, melagukan sebuah cerita.
#
Seorang anak kecil memakai seragam putih merah berdiri bersandar di pintu sebuah rumah kecil. Tubuhnya merapat ke pintu, berlindung dari terpaan angin yang bercampur rintik air. Tatapannya tertuju ke kebun pisang samping rumah. Seseorang dengan pisau bengkok di tangannya memotong satu pelepah daun pisang. Kaki tuanya bergetar saat berjinjit mencoba meraih daun pisang itu. Pisau bengkok terjatuh setelah mengiris ujung telunjuknya. Seluruh tubuhnya basah. Jari telunjuknya perih.

Anak kecil itu masih menunggu ketika dia muncul di hadapannya dengan senyum yang basah.
“Tehnya sudah diminum?” anak kecil itu mengangguk. Pelan-pelan dibantunya anak itu memegang batang pisang yang telah diiris sehingga mudah untuk dipegang. Anak itu merajuk melihat daun pisangnya. Teman-temannya pasti mengejek. Mereka memakai payung dan ada yang memakai jas hujan lengkap dengan bootnya. Dia bukannya tidak tahu atau tidak mau tahu. Dia tersenyum membujuk dan meraih tangan anaknya, meletakkan daun pisang itu di atas kepalanya.
“Ayo sana, nanti telat.” Anak itu akhirnya mengalah dan berlari kecil. Lupa pada rutinitas yang selalu dilakukannya sebelum pergi, mencium punggung tangannya. Dia tertegun. Kelupaan itu melukai hatinya. Lebih perih dari luka di ujung telunjuknya. Dadanya sesak tapi dia tersenyum. Ditatapnya langkah anak itu menembus hujan.
“Hati-hati, jangan sampai basah!” teriaknya padahal dia sendiri basah kuyup.

Ketika hendak menutup pintu, matanya menatap seorang di ujung jalan berlari di tengah hujan. Ke arahnya. Daun pisang di atas kepalanya berkibar-kibar karena angin. Anak kecil menatapnya dengan senyum yang basah, meraih tangannya dan menciumnya. “Saya lupa, Ma’….” Lalu kembali berlari menembus hujan. Daun pisang masih di atas kepalanya, berkibar-kibar.
Dia tersenyum. Hatinya terasa hangat meski tubuhnya menggigil.
#
Hujan dan angin masih menggila di luar sana. Aku menutup jendela.

Anak kecil itu pasti sudah besar sekarang. Mungkin seumuran denganku. Mungkin dia sudah lupa pada cerita itu. Atau dia mungkin sepertiku sekarang. Menatap hujan dari jendela kamar, dan menikmati kisahnya dengan secangkir teh hangat kesukaannya.

Sabtu, 09 Januari 2010

ARTI SEBUAH NAMA (Saat Menyusuri Jalan Pulang…)

Siang mulai meninggi dan langit kembali berhias dengan awan mendungnya. Aku berjalan sendiri di tengah suara ramai yang membuatku pusing. Lalu suara-suara itu makin ramai saat rintik mulai jatuh. Orang-orang berhamburan mencari tempat berteduh, aku ikut berlari dan menemukan sedikit ruang di emperan toko, itu pun setelah berdesakan dengan orang di sebelahku dan aku kekeh mempertahankan keberadaanku di sana.
Aku menatap ke jalan yang basah dan mulai menikmati hujan yang rintiknya bagai nyanyian di kupingku. “..listening to ryhthm of the falling rain…told me just what a fool I’ve been….” sembari mengingat pertemuanku dengan seorang teman, teman lama.
#

Aku melihat sekilas kearahnya lantas memalingkan muka begitu ia menatapku, tapi ia malah mengumbar senyumnya dan memanggil lengkap namaku.
Aku menyalaminya kaku sambil mengingat-ingat namanya, tapi tak satu huruf pun yang melintas di pikiranku.
“Masih ingat saya, kan?”
“Tentu ingat…” dalihku sementara otakku bekerja keras mendata semua nama dan mencari nama orang di depanku ini.
Yang kuingat ia bukanlah tipe gampang dikenal semua orang waktu sekolah dulu. Tapi tentu saja aku pernah sangat kenal dengan namanya.
“Siapa coba…?”
Aku tersenyum menutupi salah dan mengalihkan topik, “Kamu dimana sekarang?”
Dia menyebut satu nama instansi.
“Kamu..? dia balik bertanya.
“Masih kuliah.,” jawabku sedikit malu. Sebuah jawaban yang menandakan manusia yang seharusnya sudah berdikari (berdiri di atas kaki sendiri) masih bergantung dan menjadi beban orang lain.
“Kamu ingat namaku tidak…?”Dia mendesak lagi. Aku tidak menggeleng, tapi dari muka kecewanya, jelas ia tahu kalau aku benar-benar lupa.
“Masa sama teman.. lupa….” Lalu sebutnya, “Saya Apri.”
“Oooh…iya…,” aku tersenyum seolah baru teringat tapi nama yang barusan disebutnya malah makin mengaburkan ingatanku. Ia lalu pamit dan meninggalkanku, masih dengan muka bengong. Aku yakin seyakin-yakinnya, nama yang disebutnya tadi tidak pernah ada dalam kehidupanku.
Aku masih mengingat-ingat namanya. Aku ingat betul siapa dia. Tentu saja aku mengingatnya, kami pernah sangat dekat. Aku ingat dimana letak bangkunya di kelas. Aku tahu kebiasaan-kebiasaannya. Aku ingat riasan rambutnya jika ke sekolah. Tapi namanya…aku benar-benar tidak bisa mengingatnya…, hanya nama, bagian identitas orang yang biasanya kuanggap remeh.
Saat berlari mengejar bis, aku kembali berpapasan dengannya. Giliran aku yang mengumbar senyum, dia tidak bereaksi. Aku menegurnya, “Mau pulang juga..?” Dia menatap dingin ke arahku seolah belum pernah bertemu denganku. Aku menatapnya takjub, senyumku berubah masam. Dari atas bis aku masih melihatnya berdiri di halte.
#
Hujan mulai reda. Tempatku berdiri pun mulai lega karena orang sudah kembali ke jalan. Aku masih berdiri menatap ke jalan yang basah dan lagu itu masih terdengar mengejekku “..listening to ryhthm of the falling rain…told me just what a fool I’ve been….”
Aku berjalan pelan menyusuri setapak yang becek. Kota ini belum berubah. Setelah hampir sepuluh tahun aku mondar mandir setiap setahun sekali, belum juga terlihat perubahan. Hanya aku yang berubah. Mungkin.
Seorang ibu tua menatapku dan tersenyum memperlihatkan giginya yang tidak lengkap lagi. Lalu ingatanku melayang ke saat itu, seorang anak kecil membalas senyum itu dan memperlihatkan giginya yang belum lengkap pada seorang ibu yang selalu memberinya permen tiap kali melewati toko kecilnya. Lalu anak kecil itu memanggil nama seorang anak perempuan sebayanya yang muncul malu-malu di depan pintu toko, menarik lengannya dan mengajaknya berlari. Bibirku ikut bergerak berusaha keras mengeja sebuah nama. Nama itu seolah bagian dari kepingan ingatanku yang tercecer, entah di mana.
Aku menatap ibu tua itu tanpa reaksi. Aku ingin sekali membalas senyumnya tapi aku malah menunduk dan menatap senyumku di genangan air.

Aku kembali tertegun ketika di kejauhan seseorang turun dari bis yang datang belakangan dibanding bisku. Tatapan dingin yang disuguhkannya saat kami kembali berpapasan di halte bis kembali membayang dan suaranya masih terdengar jelas, “Namaku bukan Apri…”

***

Senin, 13 April 2009

Malino .....kereen!




hari jumat kemarin, saya ke Malino bersama teman-teman. Karena baru pertama kalinya, so saya takjub banget sama keindahan alamnya. Meski saya anak gunung, dan sudah tidak asing sama yang namanya gunung, tapi di sana, saya tidak habis-habisnya memotret gunung. Pokoke, di Malino keren deh....mudah-mudahan bisa ke sana lagi sebelum mati......amin.

Minggu, 22 Maret 2009

HARI YANG ANEH

kemarin adalah hari yang aneh buat saya. Tapi tidak seperti di acara 'hari yang aneh' yang di tv, saya tidak dikerjai habis-habisan oleh si Uya kuya, tapi saya 'menemukan'beberapa hal yang menunjukkan 'how stupid i am'.
Pertama, pukul 06.30, karena bingung mau ngapain pagi itu, so saya memutuskan berjalan-jalan masuk kampus (UNHAS). sesampai di danaunya, ternyata saya tidak sendirian. ada yang istirahat setelah berolahraga, ada yang datang untuk mancing,ada yang berombongan untuk acara tertentu (itu kesimpulan saya sendiri setelah melihat seragam olahraga mereka). Begitu sampai di danau, saya memilih tempat yang agak jauh dari banyak orang, dan disitulah saya menyadari sendal yang saya pakai lain sebelah.

Kedua, sekitar pukul 08.00, saya memutuskan pulang ke tempat kos setelah makan bakso yang parkir di halaman mesjid kampus (saat itu banyak orang yang juga makan bakso, terutama yang pakaiannya seragam, mereka menatap aneh dan saya mengerti betul arti tatapan mereka karena saya mendapati mata sebagian dari mereka melirik ke arah kaki saya sambil senyum-senyum). Saya pulang ke tempat kos dengan mengambil jalan yang berbeda dari yang biasa saya tempuh (selalu ada keinginan untuk melewati jalan tersebut tapi selalu tertunda coz takut kalau jalan di tempat asing, kadang ingatan saya kurang bekerja dengan baik jalan or sering kesasar!). Dan saya menemukan kalau ternyata lewat jalan tersebut lebih ringkas dan lebih cepat dibanding jalan yang selama ini saya tempuh jka ingin ke jalan besar untuk naik pete-pete.

pukul 11.00, saya kembali keluar, untuk cari makan (tentunya saya telah menukar sendal saya) dan mengambil jalan yang saya tempuh ketika pulang tadi. rencananya, saya akan makan di tempat lain lagi (bukan tempat makan saya yang selama ini ketika menempuh jalan pertama). Disepanjang jalan ada begitu banyak warung makanan tetapi saya terus saja berjalan dan menemukan diri saya berada di tempat makan yang biasa (yang artinya, saya telah memutar jalan sangat jauh untuk berada ditempat tersebut). Begitu tersadar, saya segera 'cabut' dari tempat itu dan cari tempat makan lain.

Sekitar pukul 12.30, akhirnya saya menemukan tempat makan juga, walau tidak memenuhi selera. Saya berjalan melewati warung tersebut dan berharap menemukan lagi warung yang lain tapi ternyata tidak ada, so saya kembali sambil memasang mimik seolah-olah teringat sesuatu (coz saat itu. ada banyak anak-anak muda yang nongkrong dan sepertinya memperhatikan saya yang mondar-mandir, mudah-mudahan ini perasaaan saya saja)

nanti di sambung deh..............cape...........

Senin, 29 Desember 2008

nda tau kenapa, akhir2 ini jadi malas nulis.Ngetik sms aja, kadang malas.
yang lebih parah, saya jadi malas baca....!!
HEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEELP!
ANYBODY, HELP ME!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

HAPPY NEW YEAR

SELAMAT TAHUN BARU HIJRIAH 1430 H

Minggu, 05 Oktober 2008

IDUL FITRI

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI, MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN

Minggu, 21 September 2008

Rindu

Keinginan adalah sumber penderitaan
tempatnya di dalam pikiran

Tujuan bukan utama
Yang utama adalah prosesnya

Kita hidup mencari bahagia
Harta dunia kendaraannya
Bahan bakarnya budi pekerti
Itulah nasehat para nabi

Ingin bahagia, derita didapat
Karena ingin sumber derita
Harta dunia, jadi penggoda
Membuat miskin jiwa kita

Ada benarnya nasehat orang orang suci
Memberi itu terangkan hati

Seperti matahari
yang menyinari bumi

(Iwan Fals)

Jadi rindu sama dia . Rindu pada sapa hangatnya di waktu pagi, pada sinar teduhnya ketika senja, pada panasnya yang membakar marah.

Sudah beberapa bulan ini, aku tidak lagi menemuinya. Kesibukan menyita tidak hanya waktu, tapi juga kesehatanku. Badan udah berkali-kali protes meminta haknya, tapi aku cuekin juga.

Tetapi aku senang, hatiku masih selalu hangat tiap mengingatnya. Mudah-mudahan dia mengerti. Atau malah dia juga sibuk. Tidak ada waktu yang bisa sia-sia untuknya. Dia matahari.


Maros, September 2nd, 2008

Selasa, 08 Juli 2008

K' Andrea Hirata in makassar......?

Yup! tanggal 11 Juli 2008 nanti (dua hari lagi!), Andrea 'si ikal' Hirata bakal datang ke makassar meramaikan acara Kick Andy Off air, di Baruga Pettarani UNHAS MAKASSAR. Yang lagi jauh dari makassar boleh sirik deh...hehe.
Akhirnya saya bisa juga lihat salah satu anggota 'laskar pelangi' itu.
OK,Fren...Yang sudah punya tiket, see you in Baruga....

Minggu, 27 April 2008

Ujian Nasional, Akhir?

Ujian Nasional sudah selesai. Tiga hari untuk menentukan hasil belajar selama tiga tahun. Hasilnya, beberapa Kepala Sekolah di tahan. Guru-guru yang mengawas ujian ikut di seret. Sindikat penjualan kunci jawaban terbongkar. Oknum Mahasiswa(???!!!) ikut terlibat. Bahkan, ada kemungkinan petinggi-petinggi pendidikan ikut terlibat. Beberapa siswa sudah merayakannya dengan aksi coret-coret baju, padahal penentuan kelulusan masih sangat jauh. UAS saja belum digelar. Duh, ada apa dengan bangsa ini?

Padahal, pengawalan dan pengawasan UN sudah begitu ketatnya. Menyamai pengawalan dan pengawasan pemilu. Melibatkan Polisi, tenaga-tenaga pemantau Independen dan LSM. Distribusi soal dan lembar jawaban pun dikawal dengan ketat. Jumlah lembarannya pun disesuaikan dengan jumlah peserta yang sudah didaftar sebelumnya. Di bundel dan disegel. Tapi tetap saja bocor. Entah muasal kebocorannya di mana, tapi yang namanya bocor mah, dari atas. Yang dibawah sih cuma menadah. Bahkan, ditemukan jumlah lembar jawaban dan soal tidak cukup dengan jumlah peserta. Lho, kemana lembar-lembar itu?

Pengawalan dan pengawasan yang begitu ketat sempat membersitkan haru dan bangga. Bagaimana tidak? Pemerintah telah menunjukkan keseriusannya dalam meningkatkan mutu pendidikan bangsa ini.

Standarisasi kelulusan telah menjadi hantu yang mengerikan, tidak hanya bagi siswa tapi juga bagi pihak sekolah, bahkan oknum dinas pendidikan sendiri, sehingga semuanya saling membantu, bahu membahu, melanggar aturan yang sudah ditetapkan. Melukai dan menghianati kejujuran yang semestinya menjadi dasar pendidikan.

Kelulusan memang tidak hanya ditentukan oleh hasil UN. Masih ada dua indikator lain yang ditentukan sekolah masing-masing, yaitu UAS dan sikap. Tapi UN terlanjur menjadi pelambang gengsi dari sekolah. Tak satu pun sekolah menginginkan siswanya tidak lulus UN. Susahnya soal-soal UN yang tidak mengenal kompromi, apakah sesuai atau tidak dengan materi pada setiap sekolah. Meski telah ada kurikulum yang mengatur itu, tetapi kondisi sekolah (baik sarana dan prasarana) dan siswa sendiri (termasuk kemampuan kognitifnya) yang berbeda di setiap sekolah atau daerah, menyebabkan waktu yang ditetapkan kurikulum terlalu sedikit dengan tuntutan materi yang begitu banyak. Dan meski hal itu pun telah diantisipasi dengan memberikan kompetensi dasar yang akan dijadikan soal UN ke setiap sekolah, tetap saja tidak mampu mengalahkan kekhawatiran mereka (baca: semua pihak utamanya pihak sekolah) akan hasil UN. Ditambah lagi, dengan penetapan standar yang sama secara nasional.

Guru tentunya sudah tahu dengan baik kemampuan siswanya. Toh, dia yang menghadapi siswa-siswanya itu setiap harinya. Jika kekhawatiran itu ada, berarti dia meragukan kemampuan siswanya (baca:dia yakin siswanya tidak mungkin lulus jika tidak dibantu). Dan siswa pun dengan relanya membiarkan ketidakpercayaan itu terpelihara sehingga, bisa saja, ikut menggerogoti kepercayaan dirinya. Parahnya, jika ketidakpercayaan diri itu berkembang menjadi sikap masa bodoh atau tidak peduli. Duh, mau jadi apa bangsa ini?

WAJAH GENERASI KITA

Sebelum menulis ini, saya berfikir lama sebelum akhirnya menemukan kata-kata yang tergambar di pikiran saya sebagai wajah generasi muda Indonesia. Anak muda indonesia adalah mereka yang lebih senang bermimpi daripada bekerja keras mewujudkan mimpinya. Coba kita lihat sekarang, banyak acara-acara atau kegiatan pencarian bakat yang nyata-nyata hanya menjual mimpi dan popularitas saja.
Saya tidak menyalahkan mereka-mereka yang ada di jalur seni. Bahkan saya adalah penggemar seni, baik itu seni audio berupa musik, lagu ataupun audio – visual seperti film dengan gambar-gambar dan akting yang bagus (dalam arti sebenarnya!), ataupun seni sastra, berupa kata-kata bagus seperti lirik lagu, puisi, atau cerita-cerita bagus.
Menurut saya, ada garis batas yang sangat lebar antara seni dan popularitas.

Anak Indonesia adalah mereka yang malas baca. Coba ambil satu sampel secara acak (tarik aja salah satu anak yang berseragam di jalan...) lalu tanya, berapa buku yang mereka baca dalam sehari, atau paling tidak dalam seminggu or sebulan? Siap-siap saja kecewa mendengar jawabannya. Mungkin ada yang menjawab satu (itu pun buku pelajaran karena akan ada ujian), atau mungkin ada celetukan, “eh, buku itu apaan? bisa dimakan ya?” (hehe..bayangan saya terlalu mengerikan ya?).
Anak indonesia adalah mereka yang kehilangan jati diri sebagai bangsa (ini adalah keluhan seorang teman yang gerah melihat banyaknya wajah asing di TV atau wajah asing tapi di-Indonesia-in atau malah sebaliknya (lebih ancur lagi) wajah indonesia banget tapi tingkah, gaya, bahkan cara bicara di barat-barat-in, dan tidak bisa lagi menemukan wajah indonesia).

Anak indonesia adalah …ah, kalian juga bisa menggambarkan sendiri…

Saya sendiri bukanlah seorang tua yang begitu bijak dan merasa berhak memberi nasehat. Saya kurang lebih masih termasuk dalam jajaran generasi muda (kalau masih boleh hehe...) yang dalam rangkaian waktu disentak setelah menoleh sedikit ke belakang. Saya akhir-akhir ini sering berfikir apa yang salah dengan bangsa ini. Padahal kita adalah turunan dari bangsa yang besar. Tidak kalah dengan bangsa arya (yang selalu dibanggakan orang eropa itu...). Nenek moyang kita (kata nenek saya) adalah orang bermartabat, jujur dan berani. Terbukti dengan banyaknya orang-orang dari bangsa ini yang kita kenal di masa lalu sebagai pejuang yang tidak sudi tunduk di bawah perintah bangsa lain. Kita adalah bangsa kaya (ini doktrin pemerintah sejak saya SD) terbukti bahwa siapapun yang pernah memerintah negeri ini dalam waktu lama pasti jadi makmur (hehe). Kita adalah bangsa yang cerdas, tidak percaya? ada yang meragukannya? Ok, saya paparkan buktinya...mm...tunggu dulu..maaf yang ini agak lama....ingat bahwa kita merdeka dan diakui sebagai negeri yang berdiri sendiri seperti sekarang adalah berkat kecerdasan orang-orang Indonesia yang berdiplomasi di depan para pemimpin bangsa lain untuk membuat mereka tahu dan mengakui bahwa kita adalah suatu bangsa? Pendahulu-pendahulu kita itu tidak mungkin memakai bahasa jawa or bugis di sana, kan? Atau..., Tahu Olimpiade Fisika, kan? Juara-juaranya, kan dari bangsa ini.

Jadi tidak benar anekdot yang berbunyi bahwa katanya ada orang Jepang yang pernah berkata seandainya orang Indonesia adalah menu makanan, maka bagian yang paling lezat adalah otaknya karena tidak pernah dipakai atau tidak pernah bekerja keras. Ini ejekan yang mengatakan bahwa kita adalah orang yang malas berfikir, what?! Kalau berfikir aja malas..bagaimana belajarnya...? Padahal pendahulu kita pekerja keras, koq turunannya pada jadi pemalas sih..

Saya juga bukanlah salah satu dari juara-juara olimpiade itu atau bagian dari orang-orang hebat yang pernah membentuk bangsa ini sehingga merasa punya sedikit kekuatan menghakimi. Justru saat saya menulis ini, saya ikut terhakimi.

Sekali lagi, apa yang salah dengan bangsa ini? Mengapa bangsa lain bisa maju dengan begitu pesat sementara kita tertatih di belakang. Lihat Malaysia sekarang, dengan mudahnya Malaysia mengejek dan menginjak-injak harga diri bangsa kita. Padahal, dulu Malaysia siapa sih? Bahkan Malaysia hampir kita ganyang waktu jaman Sukarno. Tapi kenyataannya sekarang, memang sebagian besar bangsa kita yang bekerja di sana adalah pembantu atau buruh. Jadi wajarlah jika pandangan mereka terhadap bangsa kita agak-agak gimanaaa gitu....Malaysia adalah bangsa yang mau belajar. Program membangun mereka mulai dengan belajar dengan mendatangkan guru-guru (dari Indonesia!) dan mengirim anak-anak mereka berguru di sini.
Bahkan, sekarang katanya orang Indonesia banyak datang ke sana untuk menjadi tentara bayaran. Sepertinya bangsa kita lebih suka membela negara lain demi uang. Jangan-jangan nanti, akan ada perang antar saudara sekandung, saudara sepupu.

Itu baru Malaysia. Mau kita bandingkan dengan bangsa lain lagi. Jepang? Korea selatan? Afrika? ....aduh bo...cape deh.....




Ditulis di Maros, 21 Februari 2008 ditengah keprihatinan dan rasa kecewa.

Orang seperti apa saya....?


Orang seperti apa kita bergantung pada bagaimana kita menjalani hidup, terutama saat badai datang. Dan saya berulang kali gagal bersikap, yang menunjukkan ‘siapa saya’ ketika suatu badai datang. Seringkali emosi lebih menguasai saya sehingga saya berperilaku di luar yang biasanya. Seringkali saya kehilangan kendali atas sikap saya. Emosi bahkan sanggup mengubah saya menjadi orang yang saya tidak inginkan. Membuat saya sanggup mengeluarkan kata-kata yang tidak pernah saya ucapkan sebelumnya.

Pernah, di satu gelombang badai, saya bertindak di luar kebiasaan saya sebagai pelampiasan emosi. Kejadian itu melukai saya, sangat dalam. Dan tanpa saya sadari, juga melukai orang-orang di sekitar saya. Tapi saya sudah tidak memandang hal itu lagi. Emosi menggelapkan pandangan saya sehingga saya hanya melihat diri saya sendiri sebagai korban. Banyak dalih saya gunakan sebagai pembenaran atas kelakuan saya (dan sepertinya, butuh lebih banyak lagi). Saya merasa bahwa orang lain-lah yang mengakibatkan saya seperti itu. Bahwa saya hanya bereaksi atas aksi yang diberikan kepada saya (tapi saya kadang bingung, yang mana disebut ‘aksi’ dan yang mana ‘reaksi’). Saya terlalu gampang terluka. Dan lucunya, saya terlalu cepat menyadarinya dan kadang saya merasa bersalah karena hal tersebut.

Dari semuanya, saya kembali menyadari satu hal. Bahwa apapun yang kita lempar tidak akan mungkin bisa kita tarik kembali. Tapi saya bukan orang yang selalu menyesali apa yang sudah terjadi. Bahkan untuk tindakan yang tidak terpikirkan. Bagi saya, apa yang saya lakukan sebelumnya, baik yang terencana maupun tidak, selalu ada kondisi yang menyebabkan hal itu terjadi. Jika pun waktu berulang, dengan kondisi yang sama, saya pun tidak akan mampu mencegah tindakan saya yang sama berulang. Semua ada resikonya. Saya jadi ingat lirik : You pray for rain but you don’t want it from the storm. You find a rose and cut your finger on the thorn. Just go and cry coz everybody cries.

Tetapi dalam keadaan seperti itu, seberapa menyesal pun saya, maaf adalah sesuatu yang tidak mungkin. Saya terlalu angkuh untuk itu. Setidaknya untuk saat ini.
Saya sanggup mencari lebih banyak pembenaran lagi untuk menghindari hal tersebut.
Sepertinya sudah kelihatan, orang seperti apa saya.


Tamalanrea, 26 April 08.

Jumat, 11 April 2008

beberapa hari yang lalu saya sms-an dengan teman saya. kami mendiskusikan banyak hal tentang hidup, utamanya tentang sistem negara kita yang bobrok sampe ke masalah2 agama dan masyarakat kita, termasuk saya, yang masih banyak yang buta agama. Diskusi kami itu berlangsung alot sampe menghabiskan banyak pulsa (untungnya waktu itu saya dapat sms gratis hehe....) yang ujung-ujungnya berakhir pada perselisihan kecil (meski lewat sms). Tapi untungnya, di akhir diskusi, kami mencoba mencari jalan tengah dan saya (saat itu) berusaha memahami pemikiran-pemikirannya meski masih banyak hal yang belum bisa saya terima.

Tapi hari ini saya mengalami goncangan yang sangat hebat (wwwuiiiih....ck..ck..ck!). saya saat ini ingin meng-smsnya kembali untuk mengakui beberapa kebenaran yang pernah dia paparkan pada saya lewat sms saat itu. saya ingin sekali mengirimkan pesan tapi (sepertinya) saya terlalu pengecut untuk itu dan lagi saya tidak ada pulsa hehe...
so, sms yang saya kirim mungkin akan seperti ini :
kamu benar teman! ada yang salah memang dengan sistem negara ini. dan karena sistemnya salah, maka semua....semuaaanya!hingga ke ujung-ujung bawahnya, semua salah! Ada yang salah dengan hidup ini teman! Saya benar-benar merasa tidak nyaman dengan kondisi saya sekarang. saya tidak nyaman dengan nurani saya yang terus bersuara. saya tidak nyaman dengan kejujuran2nya.saya tidak nyaman dengan orang2 di sekitar saya yang akan saya khianati jika mengikuti suaranya. hati saya benar2 tidak nyaman karena tidak bisa melepaskan diri.saya kecewa...kecewaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.................

so, akhirnya saya cuma bisa menghibur diri. mungkin suatu saat saya akan mengerti dengan semua kondisi yang sekarang. seperti saya baru mengerti sekarang mengenai banyak hal yang sudah terjadi di belakang saya. Ayolah...teman...saya masih muda, kan?

Yup!saya cuma bisa berusaha memahami dan berkompromi sambil mendengarkan lagunya Britney...someday...i will understand....

dan suara itu datang lagi....PENGECUT!!!!!



Tamalanrea. 11 April 08
adakah angin pernah lelah berkelana
lalu berhenti di pucuk pucuk daun
atau berbaring di atas rerumputan?

pernahkah jalan menghentikan langkah,
sedang ia tak berujung?

lalu mengapa hati ini begitu rapuh?

mks, April 08
adalah langit
ketika ia biru dan hitam
adalah laut
ketika ia tenang atau berombak

dan lihatlah senyum matahari
meski pagi
meski senja

mks, april 08